Jumat, 11 Februari 2011

How To Burn iTunes Movies To DVD

Hacker Terseksi Sedunia Diancam 40 Tahun Bui

Hacker Terseksi Sedunia Diancam 40 Tahun Bui 
 
Svechinskaya menjadi otak pencurian uang senilai US$35 juta dari rekening bank di Amerika
Kamis, 14 Oktober 2010, 08:10 WIB
Elin Yunita Kristanti, Iwan Kurniawan
  (Daily Mail)

VIVAnews -- Siapa yang mengira dibalik kecantikan dan otak encernya, Kristina Svechinskaya menjadi dalang pencurian uang senilai US$35 juta dari rekening bank di Amerika Serikat. Modusnya, dengan menggunakan virus komputer.

Berkat kelakuannya, ia mendapat predikat 'hacker paling seksi sedunia'. Ia bahkan disejajarkan dengan mata-mata cantik, Anna Chapman, yang sempat mengebohkan dunia. Apalagi, dua wanita menarik ini sama-sama berasal dari Rusia.

Dalam menjalankan aksinya, Svechinskaya bekerja bersama 37 hacker lainnya.

Gadis berusia 21 tahun itu saat ini ditahan di New York. Svechinskaya memanfaatkan virus 'Zeus Trojan' dan malware lainnya untuk membajak komputer orang lain.

Lalu, secara rahasia, para hacker komplotannya memantau aktivitas komputer korban, mencuri nomor rekening bank dan password. Dengan modal itu, mereka lalu mengambil uang jutaan dolar dari rekening korban. 

Seperti dimuat situs Daily Mail, Rabu 13 Oktober 2010, uang hasil curian itu lalu ditransfer ke ratusan rekening bank palsu milik perantara  di Amerika Serikat yang menerima dan mencuci uang hasil kejahatan cyber.

Svechinskaya juga berperan sebagai perantara yang mendapatkan komisi 10 persen dari uang curian yang ditransfer oleh hacker lainnya.

Svechinskaya punya sedikitnya lima rekening atas nama sendiri dan beberapa alias, di antaranya Anastasia Opokina dan Svetlana Makarova.

Kini, si cantik nan seksi itu diancam pidana 40 tahun dalam sel yang dingin atas dugaan kasus persekongkolan pembobolan bank dan menggunakan paspor palsu.

Jaksa Manhattan, Preet Bharara, mengungkapkan era digital membawa serta banyak manfaat, tetapi juga banyak tantangan untuk penegakan hukum dan lembaga keuangan.

"Penangkapan ini menunjukkan, pembobol bank modern tak lagi memerlukan senjata, masker, atau mobil untuk melarikan diri seperti perampokan konvensional."

"Ini hanya memerlukan internet dan kecerdikan, hanya dalam sekejap mata dengan cara meng-klik mouse," ucapnya.

http://alqiyamah.wordpress.com/2010/04/09/daftar-nama-nama-nabi-nabi-palsu-dajjalpendusta/

http://alqiyamah.wordpress.com/2010/04/09/daftar-nama-nama-nabi-nabi-palsu-dajjalpendusta/

Hidayatullah.com - Sejarah dan Catatan Nabi-Nabi Palsu

Hidayatullah.com - Sejarah dan Catatan Nabi-Nabi Palsu

Senin, 07 Februari 2011

Bocorkan Rahasia Israel, Terancam 15 Penjara

Bocorkan Rahasia Israel, Terancam 15 Penjara
Senin, 07 Februari 2011
Hidayatullah.com--Mantan tentara Israel, Anat Kamm, mengaku telah membocorkan rahasia militer ke sebuah surat kabar.

Kamm (24), mengaku bersalah dengan imbalan dakwaan lebih serius seperti kegiatan mata-mata dan mengancam keamanan negara, dicabut. Ia terancam hukuman penjara maksimum 15 tahun.

Dakwaan yang dikenakan terhadapnya antara lain menyerahkan lebih dari 2000 dokumen ke harian Haartez.

Pengadilan Tel Aviv seperti dikutip dari BBC, Senin (7/2) menyebutkan, saat berkerja sebagai staf kantor seorang jenderal antara 2005-2007, Kamm menyalin dokumen rahasia dari komputer militer.

Setelah meninggalkan dinas militer dan bekerja untuk sebuah situs Israel, ia menyerahkan dokumen itu ke wartawan Haartez.

Haaretz kemudian menerbitkan sebuah laporan mengenai kemungkinan operasi ilegal Israel membunuh para pejuang Palestina di Tepi Barat.

Kamm ditangkap Desember 2009 meskipun penahanannya baru diketahui umum empat bulan kemudian. Sejak itu ia dikenai tahanan rumah.

Pengacara Kamm, Eitan Leman menyatakan dokumen yang dibocorkan ke wartawan Israel tidak mengancam keamanan Israel.

Dengan keringanan tuntutan itu, Kamm menyatakan bersalah memiliki dan menyerahkan dokumen rahasia sedangkan dakwaan yang lebih berat seperti mengancam keamanan negara dicabut.
Anat Kam berasal dari Israel. Ia membongkar melalui koran tersebut dengan mengatakan, tentara Israel sengaja membunuh, dan bukan hanya menangkap pejuang Palestina. Perintah untuk membunuh kemungkinan bertentangan dengan hukum Israel.

"Dia seorang wanita muda, yang waktu itu percaya bahwa ia menemukan bukti kejahatan perang," kata pengacaranya. *
Foto: Hotnews.ro
Sumber : elshinta/bbc/rnwl
Rep: CR2
Red: Cholis Akbar

Hidayatullah.com - Bocorkan Rahasia Israel, Terancam 15 Penjara

Hidayatullah.com - Bocorkan Rahasia Israel, Terancam 15 Penjara

Roda Perubahan di Arab Tak Terbendung

Roda Perubahan di Arab Tak Terbendung

 
 
Senin, 31 Januari 2011
Oleh: Musthafa Luthfi  

SEBUAH  jajak pendapat di kalangan publik Arab yang dilakukan oleh TV BBC edisi Arab berbarengan dengan unjuk rasa "Jum`at Kemarahan" yang berlangsung di hampir seluruh kota utama di Mesir menunjukkan bahwa sebanyak 85 % responden Arab menilai bahwa roda perubahan sesungguhnya di dunia Arab terus menggelinding. Hanya 15 % saja yang masih meragukan bila pengalaman di Tunisia akan meluas ke seluruh negara Arab.

Terlepas dari hasil jajak pendapat tersebut, yang jelas pengalaman Tunisia paling tidak telah menghilangkan perasaan was-was dan rasa takut publik Arab dalam menuntut perubahan kepada rezim yang terlalu lama berkuasa. Sebab selama ini, rasa takut tersebut yang selalu menyelimuti, menyebabkan mereka lebih memilih diam ketimbang berhadapan dengan kekuasaan.

Revolusi rakyat di Tunisia juga telah menginspirasi dunia Arab lainnya untuk melakukan langkah yang sama terutama lewat unjuk rasa damai. Mantan utusan Liga Arab untuk PBB, Clovis Makoud, mengatakan, revolusi Tunisia adalah inspirasi bagi dunia Arab, terutama di negeri-negeri yang dikuasai rezim diktator. Kepada Press TV, ia mengatakan, revolusi Tunisia adalah salah satu peristiwa paling inspiratif di dunia Arab saat ini.

Sebenarnya setelah tumbangnya rezim Ben Ali di Tunisia ada peristiwa lain yang tak kalah menarik yang sejatinya bisa mengalih perhatian publik Arab yakni bocoran dokumen perundingan Israel-Palestina oleh TV Aljazeera. Terlepas dari akurasi dokumen tersebut, yang jelas bocoran ini dapat memunculkan murka publik Arab dan dunia Islam pada umumnya atas perundingan di belakangan layar antara perundingan Israel dan Palestina.

Di antara bocoran yang dapat membangkitkan amarah publik adalah yang berkaitan dengan konsesi luar biasa yang diberikan para perunding Palestina kepada zionis Israel termasuk kedaulatan atas kota suci Al-Quds. Namun bocoran Aljazeera tidak mempan untuk mengalihkan perhatian publik, karena gelombang kemarahan sudah demikian terfokus pada perubahan status quo.

Banyak analis Arab yang melihat bahwa gelombang murka publik di dunia Arab saat ini bukanlah sesuatu yang baru namun telah terpendam sejak lama kemudiaan tereskalasi dalam beberapa pekan belakangan ini menyusul keberhasilan revolusi rakyat di Tunisia menumbangkan rezim diktator Ben Ali yang telah berkuasa lebih dari 23 tahun.

"Sejatinya gelombangan kemarahan ini sudah lama mewarnai publik Arab akibat penderitaan kronis di bidang ekonomi dan sosial politik. Kemarahan ini mulai tereskalasi setelah revolusi rakyat yang sukses di Tunisia. Ibaratnya, peristiwa di Tunisia sekedar penggerak air yang cukup lama tergenang, " papar Dr. Mohamed Naji Omeyra.

Menurut salah seorang analis Arab ini, masalah fundemental yang menyebabkan terjadinya gelombang amarah massa tersebut adalah krisis kebebasan dan absennya demokrasi sesungguhnya. ``Memang hampir semua negara Arab mengklaim dirinya sebagai negara demokrasi dan menghormati kebebasan serta menjunjung perinsip HAM,`` tambahnya lagi.

Apa yang diungkapkan Omeyra itu merupakan pemandangan lama yang dialami rakyat kawasan yang masih setia mempertahankan status quo hingga revolusi rakyat bangkit di Tunisia. Karena itu, kejadian di Tunisia tersebut seperti penulis sebutkan dalam tulisan sebelumnya adalah pesan terhadap negara-negara Arab lainnya yang masih mempertahankan status quo tersebut.

 Dan memang terbukti, tak beberapa lama berselang gelombang kemarahan merambat ke negara-negara Arab lainnya terutama Aljazair, Mesir, Yaman dan Yordania. Tanpa diduga sebelumnya, Mesir ternyata yang paling "parah" menghadapi dampak meluasanya gelombang ``Tsunami`` Tunisia terutama lewat aksi kemarahan Jum`at (28/1) yang menyebabkan negara terbesar Arab ini dilihat dari jumlah penduduk hampir lumpuh total.

Hingga tiga hari sejak kemarahan Jum`at itu terjadi, situasi kerusuhan di Negeri Lembah Nil berpenduduk sekitar 80 juta jiwa itu, belum ada tanda-tanda akan segera berakhir meskipun Presiden Hosni Mubarak telah menunjuk Wapres, Omar Sulaiman, mantan Kepala Badan Intelijen dan Ahmed Shafiq, sebagai PM baru. Pasalnya, langkah tersebut selain sangat terlambat, juga sebagian kecil saja dari tuntutan rakyat yang menginginkan perubahan rezim secara total.

Lebih besar

Sebagai negara terbesar di Arab tentunya upaya perubahan yang sedang berguling di negeri Al-Azhar itu, gaungnya lebih besar dan dampaknya pun lebih luas di kawasan mengingat negeri ini memainkan peran paling penting selaku saudara tertua Arab. Karena itu, banyak pihak berharap, perubahan yang terjadi nantinya tidak sampai melumpuhkan tulang punggung dunia Arab tersebut.

Tentunya kekhawatiran itu beralasan, sebab pengalaman di Iraq yang berhasil dilupuhkan pendudukan sekutu pimpinan AS setelah lebih dari 12 tahun diembargo sebelum pendudukan berlangsung. Iraq yang tadinya sebagai salah satu negara Arab terkuat baik dari segi demografi maupun sumber alam (minyak) dan penguasaan teknologi akhirnya lumpuh.

Bangsa Arab tidak ingin pengalaman di Iraq tersebut terulang di Mesir yang selama ini sebagai penentu bagi dunia Arab. Yang diinginkan adalah perubahan yang dapat mengembalikan kedigdayaan negeri Piramida tersebut selaku salah satu negara besar di kawasan yang nantinya dipimpin oleh tokoh yang tidak gentar oleh konspirasi zionis atau paling tidak, tokoh yang selalu mendengar aspirasi rakyatnya.

Dari pantauan penulis terhadap perkembangan hari demi hari bahkan detik per detik, perubahan yang ditunggu-tunggu sudah tidak terelakkan lagi. Yang terjadi sekarang adalah semacam penggodokan tokoh yang paling bisa diterima (di dalam dan luar negeri) yang dalam hal ini Wapres Sulaiman salah satu diantaranya meskipun untuk sementara waktu, hingga pemilihan kepala negara baru dalam enam bulan ke depan.

Dari pantauan penulis, yang juga sudah cukup lama mukim di negeri Lembah Nil ini, mayoritas rakyat menginginkan perubahan secara damai dan menolak aksi anarkhis meskipun rakyat Mesir sudah demikian lama menanggung derita akibat rezim Mubarak, kelurga dan kroni-kroninya yang menyebabkan angka kemiskinan melonjak.

Indikasi berikut ini, paling tidak dapat menjadi gambaran derita panjang rakyat negeri itu. Sebagai contoh, data tahun 2009 dari laporan Pembangunan SDM Arab menyebutkan sebanyak 41 % penduduk Mesir hidup dalam kesmiskinan termasuk 12 juta jiwa diantaranya tidak memiliki tempat tinggal diantaranya 1,5 juta jiwa bertempat tinggal di kuburan (karena sebagian kuburan di Mesir dibuat seperti rumah-rumah kecil).

Selain itu, juga disebutkan bahwa sebanyak 10 juta angkatan kerja menganggur atau setara dengan 21,7 % dari total angkatan kerja negeri itu. Meskipun demikian, urutan Mesir dari negara-negara paling korup di dunia tidak sampai bertengger di tangga atas bahkan masuk tangga bawah karena berada di urutan 115 dari 134 negara untuk kategori tingkat korupsi para pejabat.

Namun yang lebih utama dari masalah ekonomi tersebut adalah keinginan rakyat untuk mengembalikan lagi kehormatan selaku bangsa besar setelah salama ini rezim berhubungan erat dengan zionis dan Amerika yang membuat bangsa besar ini menjadi demikian terhina.
"Pemulihan kehormatan dan kejayaan sebagai bangsa besar adalah target utama perubahan di Mesir," papar sejumlah analis Arab.

Karena alasan terakhir ini, maka tidaklah aneh bila pidato Mubarak tetap tidak digubris bahkan tuntutan agar segera hengkang makin nyaring meskipun telah ratusan jiwa gugur dan ribuan lainnnya luka-luka. Karena itu, setidaknya ada dua skenario alih kekuasaan yang mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan bahkan mungkin sebelum tulisan ini sampai ke tangan para pembaca.

 Skenario pertama adalah Mubarak akhirnya melapaskan tangung jawab kepada Wapres, Omar Sulaiman dengan jaminan dia dan keluarganya tidak akan "diganggu". Skenario ini mirip dengan skenario jatuhnya penguasa orde baru di Indonesia pada 1998. Skenario pertama ini lebih mendekati kenyataan hingga Wapres dapat memegang kendali pemerintah sampai pemilihan Presiden berlangsung sekitar enam bulan ke depan.

Skenario kedua adalah pembentukan Dewan Khusus dari tokoh-tokoh bijaksana Mesir yang bertugas mengubah konstitusi dan mengendalikan pemerintahan hingga pemilu baru berlangsung seperti yang diserukan oleh pakar fisika Mesir, penerima Nobel bidang fisika, Ahmed Zuwel. Atau sebagaimana seruan oposisi dari Partai Wafd berupa pembentukan pemerintahan penyelamatan dari semua unsur.

Israel ketar ketir

Skenario manapun nantinya yang berhasil mewujudkan perubahan, yang jelas perubahan di dunia Arab pasti akan membuat zionis Israel ketar-ketir. Pasalnya, negeri zionis tersebut selama ini berkepentingan terhadap langgengnya para pemimpin yang tidak membawa aspirasi rakyat agar bisa tetap bisa mendekte mereka sesuai dengan kepentingannya.

Sikap para pemimpin negeri Yahudi itu yang lebih memilih diam dengan aksi tuntutan perubahan di dunia Arab menunjukkan mereka dalam kondisi sangat khawatir. Apalagi bila perubahan tersebut terjadi di negeri besar seperti Mesir yang memainkan peranan penting di kawasan.

Sejak persetujuan damai dicapai pada 1979, Israel menjadikan Mesir sebagai sekutu strategis utama di Arab. Siapapun yang berkuasa nanti di Mesir pasca perubahan, kelihatannya tidak bisa lagi diperalat zionis untuk membantu melanggengkan penjajahannya atas bangsa Arab.

Yang pasti adalah perubahan saat ini menuju ke arah yang lebih baik terutama yang terkait kepada pemilihan harga diri dan kedigdayaan bangsa Arab, terus menggelinding, meskipun tidak mesti harus lewat revolusi rakyat untuk menjatuhkan rezim. Sebab besar kemungkinannya, bagi rezim yang masih tetap berkuasa, juga pasti merespon tuntutan perubahan dimaksud.

Perubahan tersebut juga diharapkan akan melapangkan jalan menuju terwujudnya solidaritas Arab untuk menghadapi tantangan sulit selama ini terutama yang terkait dengan pembelaan isu sentral bangsa Arab yakni masalah Palestina. Solidaritas ini akan membuat zionis tidak bisa lagi main-main dengan hak bangsa Arab yang disabotnya lebih dari 60 tahun.

Singkatnya, bukan rakyat Mesir saja yang berharap bahkan seluruh bangsa Arab dan Muslim berharap agar perubahan di negeri itu tidak menyebabkan kelumpuhan namun perubahan itu akan membuat Mesir lebih kuat selaku tulang punggung dunia Arab. Allah Ma`ak Ya Masr (Allah selalu bersamamu wahai Mesir), demikian antara lain doa dan harapan dari bangsa Arab umumnya. [Sana`a, 26 Safar 1432 H/hidayatullah.com]
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman

Red: Cholis Akbar

Pertempuran Balat al-Syuhada

Pertempuran Balat al-Syuhada Rabu, 08 September 2010
Oleh: Alwi Alatas
Hidayatullah.com--KITA tak hanya harus belajar dari kemenangan dan keberhasilan. Kadang kita perlu belajar juga dari kekalahan. Karena dengan demikian kita akan memahami hal-hal yang menjadi penyebab kekalahan itu dan dapat menghindarinya pada masa-masa yang akan datang. Itulah di antara alasan mengapa kita mempelajari Sejarah.
Pada awal Ramadhan tahun 114 H (732 M), telah terjadi salah satu pertempuran yang paling menentukan sepanjang sejarah. Pertempuran itu terjadi di suatu tempat di Prancis, di antara kota Tours dan Poitiers, dan kemudian dikenal sebagai Balat al-Syuhada, pavements of martyrs. Paul K. Davis memasukkan peristiwa ini dalam daftar 100 Decisive Battles-nya. Sementara seorang penulis lain, Edward Creasy, memasukkan pertempuran ini dalam bukunya, Fifteen Decisive Battles of the World.
Kapan dikatakan sebuah pertempuran bersifat menentukan jalannya sejarah? Menurut Paul K. Davies (1999: xi), sebuah pertempuran dikatakan ’menentukan’ ketika memenuhi salah satu dari tiga kriteria berikut ini.
Pertama, pertempuran itu berdampak pada perubahan sosial politik yang sangat penting (brought about a major political or social change).
Kedua, sekiranya hasil dari pertempuran itu berbeda 180 derajat, maka akan terjadi perubahan besar-besaran secara politik dan sosial (had the outcome ... been reversed, major political or social changes would have ensued).
Ketiga,
pertempuran tersebut menandai dimulainya perubahan penting dalam strategi perang (marks the introduction of a major change in warfare). Pertempuran yang tengah kita bicarakan ini, termasuk dalam kategori yang kedua.

Balat al-Syuhada, dalam sejarah juga dikenal sebagai Pertempuran Tours atau Pertempuran Poitiers, terjadi antara pasukan Muslim dari Andalusia yang dipimpin oleh Abdul Rahman al-Ghafiqi melawan pasukan Perancis yang dipimpin oleh Charles Martel. Pada pertempuran ini kaum Muslimin kalah dan Abdul Rahman sendiri turut gugur sebagai syuhada.
Muhammad Abdullah Enan dalam bukunya Decisive Moments in the History of Islam (1983: 43) menyebutkan betapa para ahli sejarah, terutama di Barat, berandai-andai bahwa sekiranya hasil dari pertempuran ini berbeda 180 derajat, yaitu kaum Muslimin menang dan pasukan Perancis kalah, maka ‘tidak akan ada lagi Eropa yang Kristen atau agama Kristen, dan Islam akan mendominasi Eropa.’
Ia juga mengutip pendapat Edward Gibbon yang mengatakan bahwa pada titik itu (di daerah antara Poitiers dan Tours, pen.) garis kemenangan kaum Muslimin telah mencapai 1000 mil ke Utara dihitung dari Gibraltar. Sekiranya mereka mampu meneruskan jarak kemenangannya dengan jumlah yang sama, maka mereka akan mampu mencapai Polandia dan Dataran Tinggi Skotlandia. Jika itu benar-benar terjadi, ‘barangkali tafsir al-Qur’an pada masa sekarang ini akan diajarkan di sekolah-sekolah Oxford, dan mimbar-mimbarnya mungkin menunjukkan pada orang yang bersunat akan kesucian dan kebenaran Wahyu Muhammad’ (1983: 48). Kemungkinan-kemungkinan inilah yang membuat para sejarawan memandang pertempuran ini sebagai decisive battle.
Enan sendiri dalam pengantar bukunya (1983: iv) memandang pertempuran ini sebagai salah satu dari dua pertempuran paling menentukan antara Islam dan Barat (the greatest decisive encounters of Islam and Christendom). Pertempuran yang satunya lagi adalah pengepungan Konstantinopel yang telah dimulai sejak 32 H (653 M). Kegagalan kaum Muslimin dalam dua pertempuran tersebut telah menunda, atau menghalangi, penetrasi Islam ke Eropa, masing-masing dari pintu masuk Timur dan Barat-nya.
Bagaimana jalannya Pertempuran Tours atau Poitiers ini sendiri? Dan apa yang menyebabkan kekalahan kaum Muslimin pada pertempuran tersebut? Kita akan melihatnya lebih jauh.
Pertempuran ini terjadi sekitar 20 tahun setelah masuknya Islam ke Andalusia di bawah kepemimpinan Tariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nusayr. Sejak awal sudah tampak keinginan para pemimpin Muslim ini untuk membuka lebih jauh wilayah Eropa. Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad sudah menyeberangi Pegunungan Pyrenees yang membatasi wilayah Spanyol dan Perancis untuk memasuki wilayah yang terakhir ini lebih jauh lagi dan, tidak tertutup kemungkinan, untuk mencapai Konstantinopel dari arah Barat (Eropa).
Namun ketika kedua tokoh ini baru menguasai beberapa bagian Selatan Perancis mereka dipanggil menghadap Khalifah di Damaskus. Sepeninggal Musa ibn Nusayr hingga ke masa Abdul Rahman al-Ghafiqi setidaknya ada lima orang lainnya yang ditunjuk oleh Damaskus untuk memimpin Andalusia (Reinaud, 1964). Sejak memasuki Andalusia, kekuatan kaum Muslimin terus merambah wilayah Selatan, Tengah, dan bahkan Utara Perancis (Davis, 1999: 103). Namun, laju penetrasi pasukan Muslim ke Perancis berjalan relatif lambat disebabkan ketidakstabilan politik di Andalusia pada masa itu.
Keadaan sosial dan politik menjadi lebih baik saat Abdul Rahman al-Ghafiqi ditunjuk untuk memimpin Andalusia. Kepemimpinannya yang baik dan adil membuatnya disukai oleh orang-orang yang dipimpinnya. Dalam membagikan pampasan perang, ia terbiasa mendahulukan kepentingan anggota pasukannya daripada kepentingannya sendiri. Ia juga merupakan seorang pemimpin yang saleh dan dikenal sebagai salah seorang sahabat Ibn Umar radhiyallahu ’anhu, salah seorang Sahabat Rasulullah shallallhu ’alaihi wasallam (Reinaud, 1964: 43; Alatas: 2007: 151).

Enan (1983: 45) menjelaskan bahwa al-Ghafiqi merupakan pemimpin dan administrator yang tangguh, seorang pembaharu yang antusias, seorang yang memiliki kebaikan dan kualitas yang ideal, serta memiliki rasa keadilan, kesabaran, dan relijiusitas yang tinggi. Secara umum Enan melihat sosok al-Ghafiqi sebagai pemimpin (Wali) Andalusia yang terbesar dan paling handal. Sejak era kepemimpinannya, menurut Reinaud (1964: 44), gubernur-gubernur yang tidak amanah diganti dengan orang-orang yang jujur. Orang-orang Islam dan Kristen diperlakukan secara adil, sesuai dengan perjanjian yang terjalin di antara mereka. Gereja-gereja yang dirobohkan secara semena-mena diperbaiki kembali. Demikian juga sebaliknya, gereja yang dibangun dengan cara korupsi, yaitu dengan cara menyogok penguasa setempat, diperintahkan untuk dirobohkan.

Al-Ghafiqi sangat waspada terhadap potensi konflik internal dan pemberontakan di Andalusia serta terhadap kemungkinan ancaman dari arah Utara. Oleh karena itu, ia segera mengirim pasukannya ke Utara, menyeberangi pegunungan Pyrenees, untuk memerangi salah satu gubernurnya di Perancis Selatan, Uthman ibn Abi Nis’ah, yang menentang kepemimpinannya dan bersekutu dengan penguasa Kristen di wilayah itu, yaitu Eudo, Duke of Acquitaine. Pasukan yang dikirim al-Ghafiqi berhasil menumpas perlawanan Ibn Abi Nis’ah. Al-ghafiqi sendiri kemudian menyusul ke Utara dengan pasukan yang kuat untuk menghadapi ancaman Duke Eudo dan pasukannya.

Al-Ghafiqi memasuki wilayah Perancis pada musim semi 732 M (awal 114 H), kurang lebih satu tahun setelah ia diangkat menjadi Wali Andalusia. Satu persatu wilayah Acquitaine berhasil diduduki pasukannya. Eudo berusaha menahan pasukan al-Ghafiqi di tepi Sungai Dordogne. Namun dalam pertempuran ini Eudo menderita kekalahan telak dan banyak anggota pasukannya yang mati di pertempuran itu. Al-Ghafiqi mengejar Eudo hingga ke ibukota kerajaannya di Burdal, Bordeaux, yang segera takluk ke tangannya setelah pengepungan singkat. Seluruh Acquitaine kemudian jatuh ke tangan Muslim. Sementara Eudo sendiri melarikan diri ke Utara, pasukan Muslim mulai memasuki wilayah Burgundi dan menaklukkan kota-kota seperti Lyon dan Besancon. Sebagian pasukan Muslim bahkan berhasil mencapai Sens yang terletak hanya seratus mil saja dari Paris. Pasukan al-Ghafiqi kemudian bergerak ke arah Barat hingga ke tepi Sungai Loire. Dari sana mereka bersiap untuk ke Utara menuju pusat Kerajaan Frank (Perancis) (Enan, 1983: 47-8).

Kerajaan Frank ketika itu dalam masa transisi antara Dinasti Merovingian dan Dinasti Carolingian. Walaupun secara resmi masih dipimpin oleh seorang raja Merovingian yang sudah tak lagi memiliki kekuasaan riil, Kerajaan Frank ketika itu secara efektif dikendalikan oleh Charles Martel. Kerajaan Frank pada masa itu, dan pada abad-abad setelahnya, dapat dikatakan sebagai kerajaan terkuat di Eropa Barat dan merupakan sekutu paling setia dari kepausan Katholik di Roma. Melihat gerakan pasukan Islam yang semakin berbahaya, Charles Martel menghimpun pasukannya. Eudo sendiri, yang merupakan saingan Charles Martel dan selama sekian lama berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat, kemudian datang dan meminta bantuan pada Charles Martel. Charles menyetujuinya denga syarat Eudo akan terus loyal kepadanya.

Sementara itu, Pasukan Muslim telah mencapai daerah di antara Poitiers dan Tours. Mereka menyerang dan menguasai kedua kota itu. Tak lama setelah itu, di wilayah antara Poitiers dan Tours, pasukan Muslim mulai berhadapan dengan pasukan Frank yang dipimpin oleh Charles Martel. Laporan tentang jumlah pasukan Muslim beragam, antara 20.000 sampai 80.000. Sementara jumlah pasukan Frank dilaporkan secara beragam juga, ada yang menyatakan lebih sedikit dari pasukan Muslim dan ada yang yang menyebutkan angka yang lebih besar. Pasukan Frank kebanyakannya merupakan pasukan irregular, nyaris telanjang, dengan rambut ikal yang tergerai hingga ke bahu, serta mengenakan kulit serigala.

Pasukan yang dibawa al-Ghafiqi ketika itu merupakan pasukan terkuat dan terbesar yang pernah dibawa ke Perancis. Namun jumlah pasukan sudah agak berkurang setelah melalui berbagai pertempuran. Pada saat itu mereka juga menghadapi ujian yang cukup serius: harta! Sepanjang penaklukkan berbagai kota di Perancis, pasukan Muslim berhasil mengumpulkan banyak pampasan perang. Harta itu bisa menjadi kekuatan ekonomi bagi Muslim selepas perang. Tapi masalahnya perang belum selesai. Dan kini mereka justru sedang dihadapkan dengan kekuatan inti lawan.

Al-Ghafiqi mulai mengkhawatirkan keberadaan pampasan perang yang ada di tangan pasukannya. Ia khawatir perhatian pasukannya terpecah antara menghadapi musuh dengan menjaga pampasan perang agar tidak jatuh ke tangan musuh. Ia meminta agar sebagian pampasan perang itu ditinggalkan saja, tapi ia tidak mampu memaksakan hal ini karena khawatir anggota pasukan akan menentangnya di saat yang cukup genting tersebut.

Kedua pasukan tidak langsung bertempur. Mereka saling mengawasi selama kurang lebih seminggu. Kesempatan ini digunakan oleh pasukan Muslim untuk mengamankan harta yang telah mereka kumpulkan agak jauh ke Selatan. Akhirnya pertempuran bermula pada tanggal 12 atau 13 Oktober 732 (akhir Sha’ban 114). Selama tujuh hingga delapan hari berikutnya kedua pasukan terlibat dalam pertempuran kecil. Kemudian pada hari kesembilan mereka memasuki pertempuran besar yang melibatkan seluruh anggota pasukan. Mereka bertempur hingga malam hari tanpa ada pihak yang menang.

Pada hari kesepuluh kedua belah pihak saling menyerang lebih keras lagi. Kubu Perancis memperlihatkan strategi pertahanan yang kokoh dan menyulitkan kaum Muslimin untuk menyerang. Enan menyebutkan bahwa pasukan Perancis pada akhirnya mulai kelelahan dan tanda-tanda kemenangan mulai berpihak kepada pasukan Muslim. Tapi sayangnya banyak di antara anggota pasukan Muslim yang terlalu khawatir akan jatuhnya pampasan perang ke tangan musuh. Sehingga ketika mereka mendengar seruan dari tempat penjagaan harta bahwa musuh mulai melakukan penetrasi ke tempat itu, konsentrasi pasukan Muslim menjadi terpecah. Banyak di antara mereka yang meninggalkan tempatnya dan menuju tempat harta pampasan perang berada. Hal ini menimbulkan kekacauan di dalam barisan Muslim dan membuka peluang bagi musuh.

Al-Ghafiqi berusaha untuk mengembalikan pasukannya pada posisi mereka semula. Tapi semuanya sudah terlambat. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, ia terkena anak panah yang dilontarkan musuh. Ia terjatuh dari kudanya dan mati syahid. Keadaan menjadi semakin kacau dan musuh berhasil mendesak pasukan Muslim. Walaupun mendapat pukulan bertubi-tubi dan banyak korban yang gugur, kaum Muslimin masih bisa mempertahankan posisi mereka hingga pertempuran dihentikan pada hari itu. Kedua belah pihak kembali ke posisi masing-masing dan bersiap-siap menyongsong pertempuran baru keesokan harinya. Namun pasukan Muslim tidak bersiap untuk menyongsong pertempuran baru. Mereka menyadari bahwa mereka sudah kalah dan pemimpin mereka sudah gugur. Maka secara diam-diam mereka memutuskan untuk mundur pada malam harinya dan meninggalkan semua pampasan perang yang sejak awal berusaha mereka jaga.

Keesokan paginya pasukan Frank merasa heran dengan kesunyian di kubu Muslim. Mereka kemudian menyadari bahwa lawan mereka sudah pergi meninggalkan pertempuran. Charles Martel dan pasukannya merasa cukup dengan hasil pertempuran itu dan tidak merasa perlu untuk mengejar pasukan Muslim. Mereka mengambil harta pampasan perang yang ditinggalkan pasukan Muslim dan kemudian kembali pulang (Enan, 1983: 56-9; Davis, 1999: 104-6).

Peristiwa itu kemudian dikenal dalam Sejarah Islam sebagai Balat al-Syuhada’ atau Dataran Syuhada. Para Sejarawan hanya bisa berandai-andai atas apa yang akan terjadi sekiranya pertempuran itu dimenangkan oleh pasukan Muslim. Bagaimana keadaan Eropa setelah itu sekiranya Kerajaan Frank dan seluruh wilayah Perancis jatuh ke tangan Muslim? Akankah Paris, dan mungkin juga setelah itu London, dan berbagai kota penting Eropa lainnya, menjadi pusat-pusat kebudayaan Islam?

Tapi kita tidak perlu berandai-andai. Semuanya sudah ditetapkan Allah dan ketetapan Allah adalah yang terbaik. Kita hanya perlu belajar dari Sejarah, bahwa adakalanya bukan musuh yang kuat yang mampu menaklukkan dan mengalahkan kita. Kita hanya perlu belajar bahwa adakalanya, atau malah seringkali, yang membuat kita takluk dan kalah justru ketidakmampuan kita sendiri dalam mengontrol hawa nafsu yang bersumber pada kecintaan yang berlebihan terhadap harta duniawi. Wallahu a’lam bis showab. [Jakarta, 25 Ramadhan 1431/ 4 September 2010]

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia
Referensi
Alatas, Alwi. Sang Penakluk Andalusia: Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad. Jakarta:
Davis, Paul K. 100 Decisive Battles: From Ancient Times to the Present. Oxford: ABC- CLIO. 1999.
Enan, Muhammad Abdullah. Decisive Moments in the History of Islam. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delli. 1983.
Reinaud, Muslim Colonies in France, Northern Italy and Switzerland, diterjemahkan oleh Haroon Khan Sherwani dari Invasions des Sarrazins en France, et de France en Savoie, en Piemont et en Suisse. Lahore: Sh. Muhammad Ashraf. 1964.

Hidayatullah.com - Pertempuran Balat al-Syuhada

Hidayatullah.com - Pertempuran Balat al-Syuhada

Hidayatullah.com - Prof. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam Liberal”

Hidayatullah.com - Prof. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam Liberal”